The Last Man Standing

apa moralitas terakhir yang tersisa jika hanya kamu manusia di bumi

The Last Man Standing
I

Bayangkan suatu pagi kita terbangun, menyeduh kopi, melangkah ke luar rumah, dan menyadari satu hal yang absurd. Semua orang lenyap. Tidak ada zombi, tidak ada alien, tidak ada kekacauan pasca-apokaliptik. Hanya keheningan mutlak. Kita menyalakan TV, statis. Kita mengecek ponsel, tidak ada sinyal. Setelah berbulan-bulan mencari, realitas itu akhirnya memukul kesadaran kita: kita adalah manusia terakhir di Bumi. The last man standing.

Pada bulan-bulan pertama, mungkin kita akan bersenang-senang. Kita bisa memacu supercar membelah jalan raya ibu kota dengan kecepatan penuh. Kita bisa masuk ke supermarket dan memakan apa saja. Tidak ada polisi, tidak ada tagihan, tidak ada aturan.

Namun, setelah euforia itu mereda, sebuah pertanyaan filosofis yang sangat mengganggu akan muncul. Jika tidak ada lagi manusia lain di dunia ini, apakah konsep "baik" dan "buruk" masih ada? Pernahkah kita memikirkan, apa moralitas terakhir yang tersisa ketika tidak ada lagi mata yang menghakimi, dan tidak ada lagi hukum yang menghukum?

II

Untuk menjawab ini, kita harus mundur sejenak dan melihat bagaimana otak kita diprogram. Secara sejarah evolusi, moralitas adalah "lem" penemu Homo sapiens. Kita ini makhluk yang rapuh. Kita tidak punya taring tajam atau kulit setebal badak. Satu-satunya cara leluhur kita bertahan hidup di padang sabana adalah dengan bekerja sama.

Psikologi evolusioner menyebut ini sebagai reciprocal altruism atau altruisme timbal balik. Otak kita mengembangkan sebuah sistem alarm yang canggih. Jika kita mencuri makanan anggota suku, kita akan dikucilkan. Dikucilkan pada zaman purba sama dengan mati dimakan harimau. Jadi, rasa bersalah, malu, dan empati itu berevolusi sebagai alat bertahan hidup. Semua itu dirancang untuk interaksi sosial.

Nah, mari kita bawa fakta sains ini kembali ke skenario manusia terakhir kita. Jika "suku" kita sudah tidak ada, logikanya sistem alarm di otak kita seharusnya mati, bukan? Jika tidak ada manusia lain yang dirugikan, apakah itu berarti kita bebas melakukan kerusakan apa saja tanpa melanggar moralitas? Di sinilah segalanya mulai menjadi sangat menarik.

III

Mari kita lakukan sebuah eksperimen pikiran yang terkenal dalam dunia sains dan filsafat. Eksperimen ini diajukan oleh filsuf Richard Sylvan pada tahun 1970-an, dikenal sebagai The Last Man Argument.

Sebagai manusia terakhir, bayangkan teman-teman sedang berjalan-jalan dan menemukan sebuah pohon berusia ribuan tahun yang sangat indah. Di tangan teman-teman ada gergaji mesin. Tidak ada alasan praktis untuk menebangnya. Kita tidak butuh kayunya, tidak butuh lahan kosongnya. Kita hanya ingin menebangnya karena iseng. Pertanyaannya: apakah tindakan itu salah?

Atau bayangkan skenario lain. Kita menemukan seekor anjing peliharaan yang ditinggalkan majikannya. Kita merasa bosan dan memutuskan untuk menyakiti anjing tersebut demi hiburan. Tidak ada manusia yang akan melihat, merekam, atau membatalkan kita (cancel culture sudah musnah).

Kenapa saat membayangkan kedua hal itu, perut kita tetap terasa mual? Kenapa otak kita berteriak bahwa tindakan itu salah secara moral? Jika moralitas murni hanya tentang kontrak sosial antar manusia, dari mana datangnya rasa sungkan ini? Ada sebuah misteri di dalam otak kita yang perlahan mulai terkuak.

IV

Inilah realitas besar yang sering kita lupakan. Saat manusia dihadapkan pada kesendirian mutlak, moralitas tidak hancur. Ia justru bermutasi dan mencapai bentuknya yang paling murni. Sains modern menunjukkan bahwa area otak kita yang memproses moralitas—terutama prefrontal cortex—tidak hanya aktif saat kita berinteraksi dengan sesama manusia. Ia juga menyala terang saat kita berhadapan dengan konsep keindahan, kehidupan makhluk lain, dan harmoni alam.

Moralitas terakhir yang tersisa ketika kita sendirian bukanlah tentang aturan, melainkan tentang tanggung jawab eksistensial (existential stewardship).

Kita tidak menebang pohon kuno itu atau menyakiti anjing tersebut karena kita secara intuitif tahu bahwa kehidupan di luar diri kita memiliki intrinsic value atau nilai bawaan. Otak kita mengenali bahwa kita adalah satu-satunya "pengamat" berkesadaran tinggi yang tersisa. Saat kita menghancurkan sesuatu tanpa alasan, kita sebenarnya sedang menghancurkan sisa-sisa kemanusiaan di dalam diri kita sendiri.

Tanpa manusia lain, moralitas menyusut menjadi satu hal yang sangat fundamental: integritas diri. Hormon pelukan seperti oxytocin dan hormon penghargaan seperti dopamine di otak kita tetap akan bekerja saat kita menyelamatkan anak kucing yang terjebak atau saat kita merawat taman yang dibiarkan liar. Kita melakukan hal yang benar bukan agar dipuji, melainkan agar kita tetap waras. Agar kita tetap manusia.

V

Teman-teman, pada akhirnya skenario manusia terakhir ini bukanlah sekadar cerita fiksi ilmiah. Ini adalah sebuah cermin psikologis untuk kita semua yang hidup berdesakan dengan delapan miliar manusia lainnya hari ini.

Seringkali kita berbuat baik hanya karena kita takut pada hukum, cemas akan reputasi, atau mengharapkan validasi di media sosial. Tapi eksperimen The Last Man membuktikan bahwa di dalam DNA kita terdalam, kita adalah penjaga (stewards). Kita punya kapasitas untuk peduli pada alam, pada hewan, dan pada kebaikan itu sendiri, terlepas dari ada atau tidaknya penonton.

Jadi, esok hari ketika tidak ada siapa-siapa yang melihat, entah saat kita membuang sampah kecil ke tempatnya atau saat kita menolong serangga yang terbalik di lantai, ingatlah ini. Di momen sunyi itulah, kita sedang mempraktikkan bentuk moralitas tertinggi. Moralitas yang akan tetap hidup, bahkan jika kita adalah satu-satunya manusia yang tersisa di muka bumi.